Hujan Bulan Juni Dan Penyair Tersohor Sapardi Djoko Damono

Identif.id, Gorontalo – Sapardi Djoko Damono adalah seorang pujangga indonesia terkemuka, yang dikenal melalu berbagai puisinya yang menggunakan kata-kata sederhana.

Beberapa karya-karyanya sangat populer dikalangan anak muda, meski begit sosok penyair ini selalu terlihat bersahaja.

Sapardi Djoko Damono merupakan anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Saparian. Sapardi lahir di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 20 Maret 1940.

Sapardi Djoko Damono sendiri, menikah dengan Wardiningsih yang juga dari Jawa. Dari perkawinan itu mereka dikaruniai dua orang anak, seorang perempuan bernama Rasti Sunyandani dan seorang laki-laki bernama Rizki Henriko.

Pendidikan yang dijalaninya¬† Sapardi Djoko Damono adalah sekolah rakyat, Kraton “Kasatriyan”, Baluwarti, Solo, lalu SMP Negeri II Solo. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas, Sapardi kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jurusan Sastra Inggris.

Kemudian Sapardi Djoko Damono memperoleh gelar doktor dalam ilmu sastra dengan disertasi yang berjudul “Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur”. Tahun 1995 ia dikukuhkan sebagai guru besar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Awal karir menulis Sapardi dimulai dari bangku sekolah. Saat masih di sekolah menengah, karya-karyanya sudah sering dimuat di majalah. Kesukaannya menulis semakin berkembang ketika dia kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM

Baca Juga :   Pj Gubernur Gorontalo Minta BPS Merekomendasikan Pengentasan Kemiskinan

Penyair tersohor ini juga perna menjadi dosen tetap di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia. Ia juga pernah menjabat sebagai dekan di Fakultas Sastra UI dan juga menjadi Guru Besar. Saat pensiun dari sebagai guru besar pada tahun 2005, Sapardi masih diberi tugas sebagai promotor konsultan dan penguji di beberapa perguruan tinggi, termasuk menjadi konsultan Badan Bahasa.

Hal lain yang membuat jasanya besar untuk sastra adalah berkat jasanya merintis dan memprakarsai Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), setiap tahun dewasa ini ada penyelenggaraan seminar dan pertemuan para sarjana sastra yang terhimpun di dalam organisasi tersebut. Bukan Hanya itu, Sapardi juga tercatat sebagai anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI), dan sebagai anggota Koninklijk Institut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV).

Karya-Karya Supardi Djoko Damono

Peranan Sapardi Djoko Damono dalam kehidupan sastra Indonesia sangat penting. A. Teeuw dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989) menyatakan bahwa Sapardi adalah seorang cendekiawan muda yang mulai menulis sekitar tahun 1960. Ada perkembangan yang jelas terlihat dalam puisi Sapardi, terutama dalam hal susunan formal puisi-puisinya. Oleh sebab itu, sudah barang tentu sangat perlu mengikuti jejak Sapardi dalam tahun-tahun mendatang. Dia seorang penyair yang orisinil dan kreatif, dengan percobaan-percobaan pembaharuannya yang mengejutkan, tetapi dalam segala kerendahan hatinya, boleh jadi menjadi petunjuk tentang perkembangan-perkembangan mendatang.

Baca Juga :   Deretan Manfaat Madu Dan Lemon Untuk Kesehatan

Sebagai pakar sastra, Sapardi menulis beberapa buku yang sangat penting yaitu sebagai berikut:

1. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978).
2. Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979).
3. Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999).
4. Novel Jawa Tahun 1950-an:Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur (1996).
5. Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999)
6. Sihir Rendra: Permainan Makna (1999) dan Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan: Sebuah Catatan Awal.

Selain itu, Sapardi juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Karya-karya tersebut antara lain, Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea, Hemingway), Daisy Manis (Daisy Milles, Henry James), Puisi Brasilia Modern, George Siferis, Sepilihan Sajak, Puisi Cina Klasik, Puisi Klasik, Shakuntala, Dimensi Mistik dalam Islam karya Annemarie Schimmel , Afrika yang Resah (Song of Lowino dan Song of Ocol oleh Okot p’Bitek), Duka Cita bagi Elektra (Mourning Becomes Electra oleh Eugene O’Neill), Amarah I dan II (The Grapes of Wrath, John Steinbeck), dan sebagainya.

Baca Juga :   KAMMI : Ibu Wahidah Harus Bersuara

Berikut beberapa karya fenomenal Sapardi Djoko Damono.

Aku ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu.

Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa daerah. Ia tidak saja aktif menulis puisi, tetapi juga cerita pendek.

Sapardi Djoko Damono mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Eka Hospital BSD Tanggerang Selatan pada hari Minggu, 19 Juli 2020. Rupanya, sebelum meninggal dunia, penyair Sapardi Djoko Damono sempat mendapat perawatan intensif di Eka Hospital BSD Tangsel sejak 9 Juli 2020. Selama di rumah sakit, SDD mendapatkan penanganan dari beberapa dokter spesialis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *